Title                              : We’ll Meet in Heaven

Author                          : Mikyou a.k.a Shin Rin Ah

Cast                             : Kang Minhyuk (Cn Blue)

Joo Yeon (After School)

Jung Yonghwa (Cn Blue) as Kang Yonghwa

Genre                          : Sad, romance

Recommended Song    : JYJ “In Heaven”

Disclaimer                   : No Bashing!

_______________________________________

Joo Yeon terduduk di samping pintu ruangan UGD. Matanya menatap lurus ke bawah. Air matanya pun telah habis terkuras. Perlahan-lahan ia mengambil sebuah ponsel di salah satu saku celananya. Dengan tangan gemetar ia memencet nomor Yonghwa.
“Yeoboseo?” terdengar suara Yonghwa dari seberang.

“Oppa…” Joo Yeon tak bisa melanjutkan kata-katanya bibirnya terlalu gemetar.

“Ne? Gwenchana?” suara Yonghwa terdengar khawatir.

“Min..hyuk…. Kecelakaan.” Jawab Joo Yeon dengan terbata-bata.

“…” hening, Tak terdengar jawaban apa pun dari Yonghwa.

“Oppa.. cepatlah kemari.” Kata Joo yeon mengiba.

“Ne… ne, aku akan ke sana secepatnya.” Akhirnya terdengar lagi sahutan Yonghwa yang kali ini terdengar buru-buru.

‘Klik’ Joo yeon mematikan panggilannya kemudian berdiri. Ia menatap melalui kaca yang terdapat di pintu. Tak terlihat begitu jelas tapi masih bisa ditebak jika beberapa perawat dan dokter masih sibuk di dalam. Mereka terlihat tegang. Joo Yeon menatapnya nanar. Ia tak menyangka kejadian ini terjadi begitu cepat, bahkan perasaannya pun datang dengan begitu cepat.

Joo Yeon POV

Wae? Waeyo? Seharusnya ini tidak terjadi. Ini semua salahku, kalau saja aku tidak berlari dan Minhyuk tidak mengejarku. Kenapa aku begitu bodoh. Aku begitu bodoh sehingga baru menyadari perasaanku yang sebenarnya, bahkan ketika aku sudah terikat dengan Yonghwa. Minhyuk-ah, mianhe…Aku telah membuatmu seperti ini. Jangan pergi, ku mohon jangan tinggalkan aku secepat ini.

“Chagi.” Panggil seseorang dengan suara yang tak asing bagiku. Yonghwa oppa berlari terengah-engah menuju padaku.

“Oppa.” Aku segera memeluknya erat. Ia balas memelukku, pelukannya terasa sangat nyaman dan sedikit membuatku tenang.

“Ottokeo?” tanya_nya penuh perhatian, aku hanya dapat menggeleng lemah.

Author Pov

“Apakah kalian saudaranya?” tanya seorang dokter yang tiba-tiba muncul membuat Joo Yeon melepaskan pelukannya.

“Ne, saya hyungnya, bagaimana dokter?” dokter itu hanya menggeleng lemah

“Ikut saya.” Kata dokter itu sambil berjalan menuju ruangannya.

“Apa dia baik-baik saja?” tanya Yonghwa begitu sampai di ruangan dokter.

“Apakah dia pernah mengalami kecelakaan sebelumnya?”

“Ne, wae?”

“Kepalanya mengalami benturan yang sangat keras sehingga menyebabkan pendarahan parah di otak. Dan ditambah dengan benturan yang pernah ia alami beberapa tahun lalu membuat fungsi kerja otaknya semakin menurun. Kemungkinannya untuk sadar sangat kecil. Dan lagi, dari hasil tes ternyata adik anda menderita kanker otak sadium 4 yang bahkan tidak pernah mendapat khemoterapi atau pengobatan sedikitpun.”

“….” Yonghwa terdiam. Tak ada satu kata pun yang dapat keluar dari bibirnya. Minhyuk bukanlah orang yang sangat ia sayangi, tapi mendengar hal ini tetap saja membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.

“Kalaupun ia sadar, ia pasti akan sangat menderita seumur hidupnya. Bahkan dalam keadaan tidak sadarpun ia dapat merasakan sakit meskipun telah diberi obat. Jadi saya sarankan sebaiknya adik anda…. di  suntik mati saja. Tapi keputusan ada di tangan anda.” mata Yonghwa terbelalak mendengar penjelasan dokter.

Suntik mati. Itu berarti ia harus merelakan Minhyuk untuk pergi selamanya. Haruskah? Sejak dulu Yonghwa selalu berharap agar Minhyuk mati saja dan tidak perlu mengganggu hidupnya lagi, tapi jika ini benar-benar akan terjadi apakah ia akan rela. Bagaimanapun juga Minhyuk adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki sekarang.

“Saya permisi.” Kata Yonghwa dengan tatapan kosong. Ia masih sibuk bergelut dengan pikirannya. Ia keluar dari ruangan dokter dan berjalan menuju kamar Minhyuk.

Jung Yong Hwa Pov

Haruskah ku katakan semua ini pada Joo Yeon. Aku tahu Joo Yeon sangat menyayangi Minhyuk. Ia pasti menolak untuk melakukan hal ini. Aish… apa yang harus aku lakukan. Sebagai kakaknya aku tidak tega melakukannya. Tapi jika Minhyuk terus hidup ia akan merebut Joo Yeon dariku, dan terlebih kata dokter ia hanya akan hidup dalam penderitaan. Haruskah ku akhiri semuanya sekarang. Ya, mungkin inilah jalan terbaik saat ini. Lagi pula ada atau tidaknya Minhyuk tidak terlalu berarti bagiku, atau setidaknya aku tak perlu repot-repot lagi mengurusnya. Ya aku harus melakukannya, demi kebaikannya juga.

Langkahku tiba-tiba terhenti di depan pintu kamar Minhyuk. Ku lihat Joo Yeon yang tengah duduk di sampingnya sambil memengang tangannya erat. Ia benar-benar tak ingin kehilangan anak itu. Ia bahkan mengabaikanku yang jelas-jelas adalah kekasihnya.

Ku alihkan pandanganku pada dongsaengku yang kini tengah terbaring. Matanya terpejam, wajahnya putih pasi, sebenarnya aku tidak tega melihatnya tapi rasa sakit di hatiku lebih dari apapun. Anak itu, yang selama ini tak pernah ku anggap sebagai dongsaeng, telah merebut segalanya dariku. Eomma meninggal karena melahirkannya, dan appa mengalami kecelakaan bersamanya yang tentu juga disebabkan olehnya. Semua yang ku miliki hilang karenanya dan sekaran ia juga akan merebut Joo Yeon dariku. Tidakkah dia sadar rasa benciku ini padanya. Setelah dia mati hidupku akan lebih tenang.

Author pov

“Joo Yeon-ah, istirahatlah. Kau tampak lelah.” Kata Yonghwa sambil menghampiri Joo Yeon.

“Gwenchana oppa. Aku akan menunggunya sampai sadar.” Kata Joo Yeon yang tak melepaskan tangannya dari jemari Minhyuk.

“Kau pasti sangat menyayanginya.” Gumam Yonghwa dengan tatapan cemburu yang tak disadari Joo Yeon.

“Ne, lebih dari apa pun.” Jawab Joo Yeon tanpa pikir panjang. Yonghwa terbelalak mendengarnya menyadari pikirannya selama ini benar.

Minhyuk Pov

Terang. Sebuah cahaya menyilaukan mataku. Ku buka perlahan-lahan mataku. Kini aku tengah berada di ruangan serba putih. Dimana ini? Ku perhatikan baik-baik sekelilingku. Rumah sakit, ya pasti ini di rumah sakit. Joo Yeon noona menatapku dengan mata bengkak. Pasti karena menangis tadi. Ia terlihat sangat lelah. Aku tersenyum padanya, tapi tampak mengabaikanku. Yonghwa hyung berdiri di belakangnya dan menatapku dengan penuh kebencian, hal yang biasa.

“Noona.” Panggilku pelan. Ia menatapku kosong. Apakah kau mencintaiku nooa? Aku sangat mencintaimu. Haruskah ku katakan sekarang di hadapan hyung ku?

“Noona” panggilku lagi, tapi ia hanya terdiam.

Aku mencoba untuk bangkit dan berdiri. Aku berada di rumah sakit dan aku baik-baik saja? Ini aneh. Perlahan-lahan aku mencoba berdiri dan benar-benar terbukti aku baik-baik saja.

“Noona nan gwenchana.” Kataku berusaha membuatnya untuk tak khawatir tapi lagi-lagi ia hanya diam.

Aku berjalan mendekatinya.

“Noona” aku memanggilnya sekali lagi.

“…” ia hanya diam.

Apakah dia baik-baik saja? Ku perhatikan wajahnya, ternyata ia sama sekali tak menatapku dari tadi. Ia menatap ke arah ranjang. Aku mengikuti tatapannya.

Mataku berhenti tepat menatap tubuhku sendiri terbaring di rajang itu. Kaki ku terasa sangat lemas hingga seakan tak mampu menopangku lagi. Apakah aku sudah mati? Bagaimana mungkin ini terjadi. Bagaimana bisa aku melihat tubuhku sendiri. Air mataku tiba-tiba menetes. Kenapa… kenapa semua ini terjadi begitu cepat. Andwe! Aku tidak boleh mati! Aku masih ingin hidup! Aku tidak mau mati mengenaskan seperti ini.

Ku alihkan pandanganku pada hyung ku.

“Hyung.” Aku mencoba untuk memanggilnya, tapi sama seperti Joo Yeon noona ia tak memperhatikanku.

Jadi… aku benar-benar tak terlihat sekarang? Aku ini arwah? Seperti di film-film? Ini benar-benar tidak lucu.

Ku lihat alat elektrokardiogram (#alat perekam aktivitas kelistrikan jantung) yang ada tak jauh dari tubuhku terbaring. Beberapa garis zig zag masih menghiasi layarnya. Setahuku jika belum membentuk garis lurus berarti orang itu masih hidup. Berarti aku belum mati? Tapi kenapa aku ada di sini.

“Joo Yeon-ah, ku rasa kau harus mencoba merelakannya.” Kata Yonghwa hyung sambil menepuk pundak noona.

“Ani. Dia sudah seperti dongsaengku sendiri. Aku tidak bisa membiarkannya seperti ini.” Sudah ku tebak ia akan menjawab seperti ini.

“Kata dokter kemungkinannya untuk sadar sangat kecil. Kita harus siap dengan apa yang akan terjadi.” Kata Yonghwa hyung yang membuatku sedikit lega. Ya… setidaknya ternyata aku hanya koma belum mati. Aku masih punya kesempatan.

“Ani! Dia pasti akan sadar.” Aku terhenyak mendengarnya. Jujur, aku sangat sedih. Aku memang akan berusaha untuk melanjutkan hidupku. Tapi bagaimana jika aku gagal, bagaiman dengan Joo Yeon noona.

“Chagi, Minhyuk… meskipun dia sadar. Kita tetap akan kehilangannya.” Kata Yonghwa hyung dengan tatapan sedih. Apakah di benar-benar sedih?

“Apa maksudmu?”

“Dia… dia menderita kanker otak.” Jelas hyung.

Aku hanya tersenyum kecut. Akhirnya mereka mengetahuinya. Aku sendiri memang sudah tahu sejak dulu. Sejak satu tahun yang lalu aku selalu mencoba untuk bertahan hidup. Sendiri. Aku memang selalu sendiri. Aku selalu menahan rasa sakit ini sendiri.

Aku tak ingin memberitahu noona karena aku takut ia akan sedih dan Yonghwa hyung…. Aku yakin dia bahkan tak mau tahu soal aku.

Joo Yeon noona kembali menangis. Mianhe noona, inilah alasan kenapa aku tak mau jujur padamu. Karena kau hanya akan menangis dan menangis. Kenapa mata indahmu itu selalu mengeluarkan air mata? Apa kau tak lelah menangis terus menerus? Mianhe karena aku hanya bisa membuatmu menangis.

“…” suasana berubah menjadi hening. Semua terdiam dengan pikiran masing-masing.

Aku melangkah menjauh dari mereka berdua. Aku butuh waktu untuk berpikir merenungkan semua kejadian aneh ini.

Aku berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Beberapa orang berlalu lalang di sampingku, tapi tak ada satupun yang memperhatikanku. Aku terhenti di depan sebuah ruangan karena tiba-tiba sebuah apel menggelinding dan tepat berhenti di depan kaki ku. Selagi tak ada orang yang memperhatikan apel itu, aku pun memungutnya, ya karena jika ada yang lihat bisa-bisa mereka menganggap apel itu melayang sendiri.

“Oppa, boleh kah aku minta kembali apel ku?” tiba-tiba seorang gadis kecil berdiri di depanku dengan tatapan puppy eyes nya.

Aku hanya terdiam, menatapnya lekat-lekat. Gadis itu justru tersenyum padaku. Eh? Padaku? Atau mungkin dengan orang lain? Ku lihat disekelilingku, tak ada siapa pun yang memperhatikannya. Bicara dengan siapa anak ini?

“Oppa, apa kau juga ingin apel ini? Kalau kau begitu menginginkannya tak apa, kau bisa menyimpannya.” Ujarnya sambil tersenyum manis. Ku perhatikan apel di tanganku, ya… ku rasa dia memang bisa melihatku 😀 Tapi bagaimana bisa?

“Kau… kau bisa melihatku?” tanyaku agak ragu.

“Eum.” Gumamnya sambil mengangguk. Ah, gadis kecil ini manis sekali, dan dia bisa melihatku. Setidaknya aku tidak sendirian sekarang.

“Ini, siapa namamu?” tanyaku sambil memberikan apel miliknya.

“Jung Min Ha imnida.” Katanya sopan sambil menundukan kepalanya.

“Min Ha-ya, apa yang kau lakukan di rumah sakit ini? Apa kau sedang menjenguk seseorang?” tanyaku mencoba ramah.

“Ani, ini rumahku.” Jawab Min Ha polos.

“Rumahmu? Maksudmu?” aku tidak mengerti dengan pernyataannya.

“Sejak dulu aku tinggal di sini oppa, karena jika tidak aku bisa mati.” Aku tertegun beberapa saat mencoba mencerna kata-katanya. Ku rasa maksudnya ia punya penyakit serius sehingga harus tinggal di rumah sakit untuk waktu yang lama.

“Kau sakit apa?” tanyaku hati-hati.

“Kanker otak oppa, tapi itu tidak masalah karena aku sudah cukup bahagia.” Ia tertawa manis padaku meski aku tak membalasanya. Kanker otak, sama seperti ku. Tapi Min Ha masih terlalu kecil untuk mengalaminya, ini seakan tak adil.

“Min Ha-ya, apa yang kau lakukan di sana. Ayo cepat masuk.” Seorang perawat dari dalam sebuah kamar inap.

“Ne! Oppa aku pergi dulu. Chuu…” ia mengecup pipiku pelan, baru kali ini aku bertemu seorang gadis kecil yang begitu manis seperti Min Ha.

Min Ha berlari menuju sang perawat yang menunggunya di dalam. Tapi baru beberapa langkah dari pintu tiba-tiba ia terjatuh. Aku berlari mendekat untuk menolongnya, tapi ku urungkan niatku karena sang perawat segera datang menanganinya. Ia menggendong Min Ha ke ranjangnya dan segera menghubungi dokter. Min Ha sudah terlihat sangat pucat, apakah dia akan baik-baik saja? Dokter dan beberapa perawat lain datang dan segera menanganinya.

Aku hanya bisa melihat. Min Ha, kenapa gadis kecil sepertinya harus mengalami masa-masa sulit seperti itu. Alat elektrokardiogram menunjukan garis lurus dan berbunyi nyaring yang justru memekakkan telinga. Semua yang ada di ruangan itu menghela nafas, pasrah.

Aku tersenyum kecut melihat kejadian ini. Yah, itulah yang akan terjadi juga padaku. Saat-saat seperti ini seharusnya menjadi moment yang menyedihkan, tapi entah kenapa aku tak sedih sama sekali.

Seperti yang ku duga, kali ini aku melihat Min Ha membuka matanya. Ia bangkit duduk diranjangnya dan tersenyum padaku. Para perawat dan dokter mengabaikannya, karena memang hanya aku yang dapat melihatnya sekarang.

Min Ha berdiri meninggalkan tubuhnya yang telah terbujur kaku di ranjang. Ia berdiri di sampingku dan memegang tanganku. Tangannya terasa hangat dan lembut.

“Oppa, sampai bertemu lagi.” Katanya kemudian melepaskan tangannya dari ku. Aku tersenyum menanggapinya, karena aku tak tau harus berkata apa. Perlahan-lahan, Min Ha melebur menjadi seberkas cahaya putih dan menghilang.

Huh, baru saja aku menemukan teman, sekarang ia pergi.

Aku kembali berjalan menyusuri koridor hingga berhenti di sebuah taman rumah sakit. Beberapa orang berkusi roda ada di situ. Mungkin mereka mencari udara segar setelah berhari-hari menghirup udara pengap rumah sakit.

Ku rebahkan tubuh ini di sebuah bangku yang terletak cukup jauh dari keramaian. Tubuh? Maksudku roh ini. Tubuhku memang berada di tempat lain sekarang.

Jika sedang sendiri seperti ini, lagi-lagi Joo Yeon noona yang ada dalam otakku. Jika aku mati, apakah ia akan sangat sedih. Dan Yonghwa hyung, apakah ia akan menangisiku? Atau justru bahagia. Andwe! Aku ingin hidup, ada urusan yang harus ku selesaikan. Aku tidak ingin mati sekarang. Tapi bagaimana caranya aku bisa aku bisa bangun kembali. Aarrghh…. Ini semua membuatku benar-benar gila!

“Annyeong, bolehkah aku duduk di sini?” sebuah suara lembut tiba-tiba mengagetkanku.

Eh, dia bicara padaku? Dia bisa melihatku juga?

………..

TBC

Advertisements