Title                                       : We’ll Meet in Heaven

Author                                  : Mikyou a.k.a Shin Rin Ah

Cast                                       : Kang Minhyuk (Cn Blue)

Joo Yeon (After School)

Jung Yonghwa (Cn Blue) as Kang Yonghwa

Genre                                   : Sad, romance

Recommended Song      : JYJ “In Heaven”

Disclaimer                           : Cerita ini murni hasil imajinasi author. Inspirasinya dapat dari drama “49 Days” dan mangan “Only One Wish” karya Mia Okumi. Maaf kalau kurang sedih. Ini bukan Oneshoot lho, masih ada lanjutannya. Pengennya sih Happy ending, tapi ya kita lihat sajalah nanti.

_____________________________________________________________________________________

Hembusan angin sepoi menerpa lembut rerumputan. Bukit-bukit kecil sedikit menghalangi hembusan itu. Tiga orang anak tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Lee Joo Yeon kecil sedang mengumpulkan bunga-bunga indah di sela-sela rerumputan, Yonghwa sedang sibuk berlari kesana kemari mengejar kupu-kupu, sedangkan Minhyuk justru sedang terduduk sendirian di balik sebuah pohon. Jemari-jemari kecilnya tengah memegagang kumpulan akar-akar pohon yang telah kering.

“Joo yeon-ah! Kemari dan lihatlah!” seru Yonghwa dari atas bukit.

Joo Yeon yang sedang sibuk mengumpulkan bunga tersentak kaget mendengar seruan Yonghwa. Ia segera berlari naik ke atas bukit yang cukup terjal. Ia berdiri di samping Yonghwa yang masih terperangah menatap ke depan. Joo yeon mengalihkan pandangannya pada apa yang dilihat Yonghwa. Puluhan kupu-kupu berwarna warni berterbangan kesana kemari dengan indahnya. Mata kedua anak itu enggan lepas dari pemandangan yang menakjubkan ini.

Di sisi lain, Minhyuk masih saja sibuk sendiri dengan kumpulan akar-akarnya. Beberapa saat kemudian ia berlari menuju rerumputan dengan bunga-bunga kecil yang menghiasinya. Ia memetik dua dari bunga itu dan merekatkannya pada atas dua buah cincin dari akar-akar pohon yang ia buat sendiri. Minhyuk menatap cincin buatannya dengan bangga. Terbayang di benaknya seorang yeoja yang amat ia cintai dapat memakai cincin itu ketika mereka sudah dewasa nanti.

“Ku harap Joo Yeon noona suka.” Minhyuk tersenyum senyum sendiri menatapnya.

Ia mencari Joo Yeon ke sana kemari tapi tak kunjung ditemukan juga yeoja pujaannya itu. Sampai akhirnya ia melihat Joo Yeon yang tengah berdiri di samping Yonghwa di atas bukit. Yonghwa mengenggam jemari Joo Yeon erat. Minhyuk hanya bisa menatap mereka dari bawah. Perlahan-lahan Yonghwa mendekatkan wajahnya ke wajah Joo Yeon. Yeoja itu hanya diam menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

‘Chuu’ sebuah kecupan hangat mendarat di bibir mungil Joo Yeon.

Perlahan-lahan butiran-butiran air keluar dari mata Minhyuk. Yeoja yang paling ia cintai sekarang sedang berciuman dengan hyung nya sendiri. Minhyuk menatap cincin buatannya itu. Semua kini sia-sia sudah. Perjuangannya untuk membuat cincin itu kini tak berarti lagi. Ia harus memendam perasaannya lagi untuk waktu yang lama.

@Minhyuk room:

Minhyuk POV

Ku tatap lagi dalam-dalam dua buah cincin yang ada di tanganku. Menurutku cincin buatanku ini tidak terlalu buruk. Sayangnya Joo Yeon noona tak mungkin mau memakainya. Sejak awal aku memang sudah menebak kalau Joo Yeon noona dan hyung ku saling mencintai. Mana mungkin aku merusak hubungan dua orang yang ku sayangi itu. Lebih baik ku simpan saja cincin ini, mungkin suatu saat nanti Joo Yeon noona mau memakainya.

End POV

Minhyuk mengambil sebuah kotak kecil di atas mejanya yang bertuliskan “MINHYUK SECRET”. Ia merogoh sebuah kunci mungil yang menjadi bandul kalungnya. Ia membuka kotaknya dengan kunci mungil itu dan meletakkan dua buah cincin buatannya ke dalamnya. Kemudian ia menutup kembali kotak itu dan menguncinya rapat-rapat, berharap tak ada satu orangpun yang dapat membuka dan mengetahui isinya. Ia mengalungkan kembali kunci itu di lehernya.

10 tahun kemudian:

“Apa kau pulang sore hari ini?” Tanya Yonghwa pada dongsaengnya.

“Sepertinya tidak, waeyo hyung?” jawab Minhyuk sambil menuang segelas susu dari kulkas.

“Aku akan menjemputmu.” Yonghwa tersenyum manis pada Minhyuk yang hanya melongo menatapnya.

“N..Ne.” Minhyuk tampak heran dengan tingkah Yonghwa. Tidak seperti biasanya Yonghwa ramah padanya. Biasanya ia dingin dan tidak peduli padanya.

Yonghwa memberikan sepiring omurice pada Minhyuk yang menatapnya semakin bingung.

####

Minhyuk Pov

Yeoja itu datang, yeoja yang paling ku kagumi di dunia. Ia membuka pintu mobil dengan perlahan, dan dapat ku lihat wajahnya yang bercahaya diterpa sinar matahari sore. Ia tersenyum padaku, benar-benar indah. Tidak seperti biasanya ia menjemputku sekolah. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk bisa berdua dengannya.

Tapi kebahagiannku tak berlangsung lama, seorang namja yang sangat tak asing bagiku keluar dari pintu lainnya. Ia membuka kaca mata hitamnya dan kemudian menatap Joo Yeon. Sedikit senyum tersimpul di sudut bibirnya. Ia mengalihkan pandangannya padaku dan memberi isyarat untuk segera masuk ke mobil.

Ku langkahkan kakiku dengan berat, pupuslah sudah angan-angan yang baru saja ku susun tadi. Joo Yeon noona memang sudah menjadi milik hyungku, aku tidak mungkin merebutnya, itu terlalu kejam.

______________

Mungkin ini benar-benar hari paling menyebalkan bagiku. Harus satu mobil dengan mereka berdua, dan kini mereka justru mengajakku makan malam. Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi, ini benar-benar memuakkan.

“Minhyuk-ah, sebenarnya ada yang belum kami ceritakan padamu.” Kata Joo yeon memulai pembicaraan.

“Mwo?”

“Sebentar lagi, kami akan….. bertunangan.” Jawab Hyung ku sambil memegang tangan Joo Yeon erat.

Sakit. Sangat sakit. Meskipun aku tahu sejak dulu hal ini pasti terjadi, tapi tetap saja rasa sakit ini begitu besar. Aku lah yang lebih dulu mencintainya, aku lah selalu berusaha ada untuk Joo yeon, tapi kenapa justru Yonghwa hyung yang bisa memilikinya? Ini benar-benar tidak adil. Tidak bisakah Joo yeon memberikan sedikit hatinya untukku? Bisakah dia tidak hanya menganggapku sebagai dongsaeng? Tapi inilah kenyataan yang harus ku hadapi, yeoja itu memang tidak mungkin jadi milikku.

“Chukae.” Sebisa mungkin ku paksakan sebuah senyum terlukis di bibirku, meskipun itu membuatku semakin sakit.

“Ku harap kau bisa menerimanya sebgai noona mu.” Kata hyung dingin.

Aku hanya menatapnya penuh maksud, aku tahu dia sengaja sedang memojokkanku. Dia memang sudah menebak jika aku menyukai Joo Yeon lebih dari sekadar noona. Tapi bukannya mengalah justru dia semakin mendekatinya. Memang sejak dulu dia membenciku, dia bahkan tak pernah memperlakukanku sebagai dongsaengnya. Aku seperti orang asing baginya.

Joo Yeon menatapku lembut, lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum membalasnya. Andai saja dia tahu perasaanku yang begitu pilu.

Joo Yeon Pov

“Chukae.”

‘Deg…’ tiba-tiba jantungku berdetak kencang saat dia mengatakannya. Senyumnya terlihat begitu manis, bahkan ku akui lebih manis dari Yonghwa. Aish.. apa yang kupikirkan.

“Ku harap kau bisa menerimanya sebgai noona mu.” Kata Yonghwa terdengar dingin.

Minhyuk hanya tersenyum kepadaku. Sedetik pun aku tak bisa melepaskan mataku darinya. Kadang perasaan ini tidak bisa ku jelaskan. Perasaan yang sama seperti pada Yonghwa, aku tidak mengerti. Apa ini?Apakah aku mencintainya? Tidak! Tidak mungkin! Aku hanya mencintai satu namja yaitu Kang Yonghwa. Tak ada yang lain.

Author Pov

Minhyuk menatap langit sore dengan mata sayunya. Tiga minggu setelah Yong Hwa mengabarkan rencana pertunangannya bukanlah hal yang mudah bagi Minhyuk. Namja berambut coklat itu terlambat mendapatkan cintanya. Besok pagi adalah hari dimana Yonghwa dan Joo Yeon telah terikat dan sudah tentu sebentar lagi mereka akan benar-benar menjadi pasangan yang tidak dapat diganggu. Setidaknya hal itulah yang ada di pikiran Minhyuk selama tiga minggu ini.

“Haruskah aku menggagalkan pertunangan mereka? Bagaimana caranya? Tapi kurasa aku terlalu jahat jika melakukan itu. Mungkin Yonghwa hyung bisa membuat Joon Yeon noona bahagia. Dan aku harus bahagia melihatnya bahagia. Tapi mungkin tidak semudah itu.” Minhyuk berkata pada dirinya sendiri dan hamparan sungai Han di depannya.

“Atau haruskah aku bunuh diri?” Ia kembali berbicara sendiri, melangkahkan kakinya lebih dekat dengan tepi sungai Han.

“Ah, ani. Aku tidak mau menyerah begitu saja.” Ia mengurungkan niatnya, melangkah mundur menjauh.

_ Good bye darling, Hey you, oh my darling hey you _’ terdengar suara ringtone Hp Minhyuk yang bordering nyaring.

“Yeoboseo.” Sapa Minhyuk pada orang di seberang.

“Minhyuk-sshi ini aku Rin Ah, apa kau sedang sibuk?” terdengar suara Rin Ah penuh semangat.

“Ani, waeyo?”

“Temui aku di café Root, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan padamu. Mianheyo, aku buru-buru. Annyeong” Rin Ah segera mematikan teleponnya, Minhyuk hanya menatap layar Hp nya dengan bingung.

@ Café, 04.00 KTS

Orang-orang berlalu lalang ke sana kemari seakan tak punya tujuan. Minhyuk membuka pintu kaca sebuah café yang berada tepat di tepi jalan. Di dalam Rin ah sudah duduk menantinya di dekat  pintu masuk.

“Sudah lama?” tanya Minhyuk sambil duduk di depan Rin Ah.

“Ani, kau mau pesan apa?” Rin Ah membalasnya dengan ramah.

“Aku baru saja minum.” Minhyuk menolaknya dengan sopan.

Rin Ah adalah seorang yeoja yang kebetulan satu kelas dengan Minhyuk. Sejak mereka mulai memasuki tahun kedua di sekolah, mereka mulai dekat satu sama lain. Bahkan di sekolah mereka di sebut-sebut sebagai pasangan paling serasi. Namun itu hanya pendapat orang saja, karena kenyataannya bagi Minhyuk di hatinya hanya ada Joo Yeon.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Minhyuk memulai obrolan mereka menuju topic permasalahan.

“Ne, aku tidak akan basa-basi lagi. Kau tahu kita sudah saling mengenal sejak kelas satu, dan banyak orang yang beranggapan salah mengenai kita.” Rin Ah menundukkan kepalanya malu-malu.

“Mianhe jika itu mengusikmu. Tapi aku tidak bermaksud begitu.” Minhyuk berkata dengan nada penyesalan.

“Ani! Justru aku senang. Minhyuk-sshi, jeongmal… jeongmal saranghae.” Kali ini Rin Ah mengangkat kepalanya berusaha sekuat tenaga untuk menatap Minhyuk yang mulai terbelalak di depannya.

“Mwo ya?” Minhyuk menatapnya tak percaya.

Rin Ah memegang tangan Minhyuk erat, membuat namja itu terdiam. Pelahan, sedikit demi sedikit Rin Ah mendekatkan wajahnya pada Minyuk yang masih kaget. Yeoja itu menutup matanya berusaha tidak gugup. Semakin dekat dengan wajah Minhyuk, ia dapat merasakan hembusan nafas hangat. Minhyuk sendiri hanya terpaku, ini semua bagaikan mimpi baginya. Haruskah ia memberikan ciuman pertamanya pada Rin Ah?

****

Joo Yeon berjalan menapaki trotoar tepi jalan, hawa panas semakin membakar tenggorokannya. Ia berhenti sebentar dan menatap ke sana kemari mencari sesuatu yang bisa mendinginkan tubuhnya.

“Asa! Ada Café, pasti di sana lebih dingin.” Gumam yeoja yeppo itu saat melihat sebuah café tak jauh darinya.

Ia mulai mempercepat kakinya menuju café, dan tak memakan waktu sampai semenit ia sudah sampai di depan pintu. Joo Yeon membuka pintu perlahan, udara sejuk dari AC dengan cepat mendinginkan badannya.

Namun baru tiga langkah ia masuk ke dalam, hatinya kembali panas. Kali ini bukan karena udara, tapi karena apa yang ia lihat. Tanpa sengaja, ia melihat Minhyuk dengan deorang yeoja hampir berciuman. Namun untuk apa ia harus panas melihatnya…

Joo Yeon Pov

“Asa! Ada Café, pasti di sana lebih dingin.” Gumamku saat melihat café tak jauh dari tempat ku berdiri.

Aku berjalan lebih cepat karena semakin tak tahan dengan panas yang menyengat ini. Ah, benar saja baru ku buka pintunya sudah terasa sangat sejuk. Aku semakin masuk ke dalam, mungkin aku bisa beristiahat sebentar sambil memesan minuman. Namun langkahku tiba-tiba terhenti. Minhyuk-ah, dia… apa yang… dia dan seorang yeoja… Minhyuk dan seorang yeoja hampir berciuman di depanku.

‘DEG’ dadaku terasa sakit. Tanpa sadar air mata menetes dari pelupuk mataku. Waeyo? Kenapa aku merasa sakit. Bukankah dia hanya sebatas dongsaeng bagi ku, tak seharusnya aku merasa seperti ini.

Kedua bibir mereka hampir menempel. Hampir, karena Minyuk tampak mengetahui kehadiranku. Apakah aku mengganggu mereka?

“Noona.” Minhyuk menjauhkan wajahnya dari yeoja itu. Mereka berdua sama-sama tampak kaget.

“Ah, mianhe aku mengganggu.” Kataku kemudian bergegas pergi meninggalkan mereka.

“Noona!” Minhyuk berteriak di belakangku. Ah, apakah ia melihatku menangis tadi. Aish Joo Yeon, naega baboyeoseo! Minhyuk pasti berpikir aneh-aneh sekarang.

Aku semakin mempercepat langkahku.  Air mataku pun semakin deras menetes. Aniya! Aku tidak ingin menangis. Namun kenapa aku tidak bisa menghentikannya. Dia hanya dongsaengku, dan aku hanya sebagai noona baginya. Tidak boleh lebih! Ada apa ini?

“Noona!” Minhyuk ikut berlari mengejarku. Jalanan cukup ramai, sulit untuk menyeberang jalan jika seperti ini. Aku tidak mau Minhyuk melihatku semakin menangis seperti ini. Aku harus menghindar darinya. Begitu lampu lalu lintas berubah merah aku segera berlari menuju seberang jalan. Kemudian terus berlari menjauh dari Minhyuk yang aku yakini masih mengejarku. Biar saja orang-orang melihatku aneh, aku tidak peduli.

Ciiit….. Braaaak’ ku dengar suara benturan keras dari belakangku.

‘DEG’ tiba-tiba hatiku terasa sangat buruk. Apa yang terjadi?

Orang-orang segera berlari membelakangiku. Wajah mereka terlihat khawatir, kaget. Aku hanya membatu, berharap apa yang ada di pikiranku ini tak benar. Apakah itu….

“Minhyuk!” aku berteriak sekeras mungkin, tapi masih tak berani membalikkan badanku.

Akhirnya dengan hati berat aku berusaha berbalik. Air mataku mengalir semakin deras saat ku dapati sosok itu kini tergelatak lemah di tengah jalan. Darah menutupi hampir seluruh tubuhnya. Sebuah truk besar berhenti tak jauh darinya.

Dengan langkah lunglai aku berjalan mendekati tubuh itu. Semakin dekat dan dekat. Aku tak tahan lagi. Sedikit perasaan lega saat melihat Minhyuk masih membuka matanya. Ia menatapku yang kini berada di depannya. Ia tersenyum, senyum manisnya yang ku harap bukan untuk yang terakhir kali.

Ku peluk tubuhnya yang lemah. Kini baju ku pun penuh dengan darahnya. Ia terus menatapku. Hatiku terasa sakit saat melihat orang yang paling ku sayangi ini begitu tak berdaya.

“Bertahanlah.” Hanya itu yang dapat ku katakan padanya. Aku tidak ingin kehilangannya. Aku benar-benar tak bisa hidup tanpanya.

“Sa…sa…” Ia berusaha mengatakan sesuatu dengan terbata-bata, namun tampaknya itu terlalu sulit untuknya.

“Ssstt… jangan banyak bicara dulu. Kau harus bertahan untukku.” Kataku berusaha menguatkannya, meskipun air mata ku masih mengalir tak terhenti.

Perlahan-lahan senyum itu mulai pudar, tatapan matanya pun mulai kosong. Andwe! Minhyuk adalah anak yang kuat, aku tahu ia pasti bisa bertahan. Sedikit demi sedikit matanya mulai tertutup.

“Saranghae.” Kata itu terlontar begitu saja dari mulutku ketika matanya telah sepenuhnya tertutup. Aku tidak mengerti apa yang ada dalam pikiranku, entah mengapa kata-kata itu keluar begitu saja. Benarkah? Benarkah aku mencintainya?

“Minhyuk, kau pernah berjanji akan selalu ada di sampingku. Jangan tinggalkan aku.” Bisikku di dekat telinganya. Semoga ia dapat mendengarku.

Minhyuk POV

“Noona!” aku berlari mengejar sosok itu.

Joo Yeon noona pasti salah paham sekarang. Mengapa ia harus melihat kejadian tadi. Aaahhh….. entah apa yang harus ku lakukan sekarang. Kesempatanku untuk mendapatkannya kini semakin kecil, atau bahkan hilanglah sudah. Babo! Aku harus menjelaskannya.

Yeoja yang ku kejar itu berlari semakin cepat, di tambah banyaknya kedaraan yang lalu lalang membuatku semakin sulit mengejarnya.

Ciiit….. Braaaak’ tiba-tiba kurasakan tubuhku terhempas keras di aspal jalan.

“Minhyuk!” ku dengar suara yang sangat tak asing itu berteriak, namun ia tak menatapku. Entah apa yang dia lakukan, berteriak sambil membelakangiku, orang-orang pasti akan mengiranya gila.

Aku tak mengerti apa yang terjadi. Beberapa orang berlari ke arahku, tapi aku tak mempedulikan itu. Aku mencoba untuk bangun dan menemui Joo Yeon yang terduduk di tepi jalan. Ku percepat langkahku mendekatinya.

Ia menangis, buliran-buliran air mata menetes tanpa henti dari kedua matanya. Kenapa? Apakah dia sakit hati melihatku hampir berciuman dengan gadis lain? Itu berarti ia juga mencintaiku? Setidaknya aku mendapat sedikit harapan darinya.

“Noona, gwenchana?” tanyaku dari belakangnya. Ku ulurkan tanganku hendak membelainya pelan, tapi….. tanganku bahkan tak bisa menyentuhnya. Kenapa ini?

“Noona! Kau mendengarku? Noona!” aku berteriak di sampingnya, tapi ia seakan tak mendengar.

Perlahan-lahan tubuhku mulai tembus pandang, Pudar sedikit demi sedikit. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi.

Sedetik kemudian, semuanya bertambah aneh. Sakit, tiba-tiba itulah yang kurasakan. Kepalaku terasa sangat pening dan tubuhku sama sekali tak bisa ku gerakkan. Ku tatap ke sekeliling, beberapa orang mengerubungiku. Ya, entah apa yang terjadi tiba-tiba aku berada di tengah jalan seperti ini. Joo Yeon, ku cari sosok itu. Ia berjalan mendekatiku, sama seperti sebelumnya air matanya masih menetes. Aku tidak suka melihatnya menangis. Ku coba untuk tersenyum agar ia berhenti menangisi ku.

Ia memeluk tubuhku erat, suatu hal yang paling aku impikan sejak dulu.

“Bertahanlah.” Katanya di tengah isak tangisnya.

Kini aku mengerti apa yang terjadi. Darah ini, tubuhku yang telah penuh dengan darah, rasa sakit di seluruh tubuhku. Ku rasa ini adalah saat terakhir ku melihatnya. Yeoja yang telah ku kagumi sejak sepuluh tahun yang lalu, aku tak ingin kehilangannya tapi sekarang justru ia yang akan kehilanganku. Aku tidak mau memendam perasaan ini sampai mati. Mungkin ini adalah saatnya, aku harus mengatakannya meski ini sudah terlambat.

“Sa…sa…” sekuat tenaga ku coba untuk mengatakan satu kata itu. ‘Sarangae’ kenapa sangat sulit untuk mengucapkanya. Aku hanya ingin ia tahu seberapa besar cintaku untuknya, tapi kenapa mengucapkan satu kata itu saja aku tidak mampu.

“Ssstt… jangan banyak bicara dulu. Kau harus bertahan untukku.” Kata dengan lembut.

Mata itu, aku takkan pernah melupakannya, wajah cantiknya yang telah meluluhkan hatiku. Perlahan wajah itu mulai menghilang dari pandanganku. Dan hanya meninggalkan seberkas gelap yang tak mampu ku lewati. Kegelapan yang mungkin akan kurasakan seumur hidupku.

*****

Untuk malaikat di surga, ku mohon jangan bawa aku bersamamu. Aku masih ingin melihat wajah itu. Aku masih ingin menyentuhnya. Aku masih ingin memberikan cincin yang belum sempat ku berikan padanya. Aku tidak ingin memendam perasaanku selamanya. Ijikan aku untuk mengatakannya untuk yang terakhir kali, mengatakan betapa besar perasaanku ini untuknya.

Dan Hyung ku, aku ingin mendapatkan kasih sayang dari nya untuk yang terkhir kali. Apakah salah jika seorang dongsaeng berharap kasih dari hyungnya? Ku mohon, aku menyayanginya. Aku ingin memeluk hyung ku untuk yang terakhir. Aku tidak ingin pergi sebelum mewujudkan semua impianku bersamanya.

Jebal, jebal, jebal….

Beri aku kesempatan sekali lagi.

 *****

TBC

Advertisements