Title                       : The Dark Fate

Author                 : Mikyou

Genre                   : Horor, romance, family, fantasy

Main Cast            : Jo Youngmin (Boyfriend)

Jo Kwangmin (Boyfriend)

Choi Minho (Shinee)

Other                    : Bora (Sistar)

Anh Sohee (Wonder Girls)

Victorya (Fx)

HyunAh (4minutes)

Nana Jin ah (After School)

Malam di kota Seoul semakin dingin. Orang yang berlalu lalang pun semakin sedikit. Sesosok tubuh pucat masih bersandar di salah satu pagar sebuah rumah, entah rumah siapa itu. Matanya terus menatap seorang yeoja dengan pakaian sexy dan lipstick merah merona di bibirnya yang menggoda setiap namja yang melihatnya. Yeoja itu sadar jika ada yang sedang memperhatikannya. Ia mendekati sesosok tubuh itu.

“Kau tampan juga anak kecil.” Gumamnya pelan semakin mendekat.

Namja berkulit pucat itu tampak senang. Akhirnya ia mendapatkan mangsanya malam ini. Matanya mulai berubah menjadi kemerahan, menunjukkan betapa laparnya ia. Yeoja itu akhirnya berada tepat di depannya. Hanya berjarak beberapa centi saja dari tubuhnya. Ia memegang tangan namja itu, perlahan-lahan mendekatkan ke mulutnya dan menjilatinya. Namja itu tampak kaget, ia berusaha melepaskan tangannya namun tenaganya kalah kuat dengan yeoja itu. Sang yeoja yang asyik menjilati tangannya tiba-tiba memunculkan kedua taring panjangnya dan tanpa pikir panjang ia menusukkan kedua taring tajam itu ke pergelangan tangan sang namja. Darah segar mulai keluar, yeoja itu menjilat darah sang namja. Namja itu hanya terpaku melihatnya, entah apa yang ada dalam kepalanya, tapi ia tak berusaha untuk melarikan diri.

“Ternyata kau vampire. Pantas darahmu manis.” Kata yeoja itu sambil terus menjilati darah yang keluar.

“Kau… kau seekor…” kata namja itu terbata-bata. Ia takut apa yang ada dalam pikirannya benar.

“Jangan bilang seekor, tapi seorang. Bukankah penampilanku sekarang sama seperti manusia lainnya?!” yeoja itu berhenti menjilati darahnya dan mendekatkan bibirnya ke wajah sang namja.

“Ne, kau benar. Kau memang terlalu cantik untuk seekor were wolf. Ah, bukan, maksudku seorang.” Namja itu juga mulai mendekatkan wajahnya ke wajah yeoja itu. Keduanya saling menatap satu sama lain. Diam, mereka bergelut dengan pikiran mereka masing-masing. Sampai akhirnya yeoja itu kembali menarik tangan sang namja dan kembali menghisap darah di tangannya.

“Untuk apa were wolf meminum darah?” namja itu tampak tak mengerti dengan yang dilakukan yeoja itu.

Sang yeoja diam sejenak. Ia memperhatikan namja itu dengan seksama. Sebuah senyum tersungging di bibirnya sesaat setelah ia menyadari sesuatu.

“Kau pasti vampire baru ya?” Tanya yeoja itu.

“Tidak, aku dilahirkan menjadi vampire sejak ratusan tahun lalu.” Jawab namja itu polos.

“Dilahirkan?” yeoja itu tampak kaget.

“Jadi kau……. Hahahaha sepertinya aku sangat beruntung malam ini.” Yeoja were wolf itu tertawa bahagia.

“Benarkah? Kalu begitu maaf aku telah merusak kebahagianmu!” tiba-tiba seorang vampire lain datang dan memegang tangan yeoja itu dengan kasar.

“Min ho-sshi, kenapa kau muncul tiba-tiba? Apa kau juga ingin jadi mangsaku?” Tanya yeoja itu menggoda.

“So hee-sshi, sebaiknya kau pergi atau kau lah yang jadi mangsaku!” gertak namja bernama Minho itu pada sang yeoja yang ternyata bernama So hee.

So hee tersenyum nakal padanya. Kemudian ia menatap namja yang satunya. Namja itu terdiam, tampaknya ia tak mengerti apa yang terjadi. So hee mendekatinya, tapi Minho segera menahannya dengan kasar. Sedikit demi sedikit tubuh So Hee melebur menjadi butiran butiran debu kecil dan menghilang.

“Babo-ya! Apa yang kau lakukan di sini? Kau cari mati ya?!” gertak Minho pada dongsaengnya itu.

“Ne, aku memang ingin mati!” namja itu balas menggertaknya.

“Youngmin-ah! Kau benar-benar….” Minho tak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia benar-benar sudah habis pikir dengan dongsaeng nya itu.

“Kaja! Kita pulang dan obati lukamu!” kata minho berusaha sedikit menenangkan amarahnya.

Tapi namja bernama Youngmin itu tak begitu saja menuruti perintahnya. Ia berusaha lari menjauhi Minho yang hanya menatapnya iba. Dua orang lelaki berbadan besar datang menghadang langkahnya dari depan. Tanpa tunggu lama, mereka segera menggendongnya(?).

“Ya!!! Lepaskan!” Youngmin memberontak berusaha melepaskan diri. Tapi usahanya sia-sia saja, sisa tenaganya tak kan sanggup melawan kedua orang berbadan besar itu.

“Bawa dia pulang.” Perintah Minho pada kedua pria itu. Perlahan-lahan kedua pria itu dan Youngmin melebur menjadi bayangan hitam dan cahaya putih.

“Sampai kapan kau akan bersembunyi di situ?” kata Minho setelah mereka pergi.

Tidak ada satu orang pun di tempat itu. Tapi Minho tampak masih menunggu seseorang untuk datang. Tapi suasana semakin sepi. Hembusan angin malam pun semakin menusuk tulang kecuali bagi Minho tentunya, karena dingin adalah sahabatnya.

“Keluarlah, atau kau akan mati kedinginan di situ!” kata Minho lagi dengan tenang, entah dengan siapa ia bicara.

Beberapa detik kemudian, seorang yeoja keluar dari balik tumpukan tong-tong sampah. Badannya gemetar antara kedinginan dan ketakutan atas apa yang baru saja ia lihat tadi. Minho menatapnya tajam.

“Kemarilah!” Minho menyuruh yeoja itu semakin dekat ke arahnya.

Bau darah mulai menggiurkan hatinya. Apalagi seharian ini ia belum mengisi perutnya dan sekarang seonggok manusia ada di hadapannya. Membuatnya semakin kelaparan.

“Bora-sshi, apa kau melihat semuanya tadi?” Tanya Minho dengan lembut.

“Ba..bagaimana.. kau tahu namaku?” Tanya Bora dengan terbata-bata.

“Mana mungkin aku tidak tahu nama seorang yeoja yang secantik dirimu. Katakan padaku, apa kau melihat semuanya tadi?” Minho kembali bertanya, ia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Bora.

“Ne, aku melihat semuanya.” Jawab Bora seperti tersihir, ia lebih tenang.

Bora justru semakin mendekat ke Minho, kemudian ia memeluk Minho dengan erat. Minho hanya tersenyum licik. Bau darah semakin menggodanya. Seorang vampire sepertinya tak kan mampu menahan bau yang begitu menggiurkan seperti itu. Ia menjilat leher Bora dengan lembut dan menunjukkan kedua taring tajamnya. Mata coklatnya berubah menjadi kemerahan. Perlahan-lahan taring itu semakin mendekat ke leher Bora sampai akhirnya menancap dengan buasnya. Ia menghisap darah yang keluar dari leher Bora dengan ganas, tak membiarkan setetes darahpun terlewat dari hisapannya. Bora sendiri tak memberontak, ia seperti tak merasa kesakitan sedikitpun. Setengah jam kemudian, Minho baru terlihat puas. Kini tak ada lagi yang mengetahui rahasianya. Yeoja itu telah mati. Satu masalah terselesaikan.

Minho berjalan pergi mencari mangsa lain, meninggalkan tubuh Bora yang tak bernyawa lagi. Namun tanpa ia sadari tubuh Bora mulai bergerak sedikit demi sedikit. Tak ada setetes darah pun yang tersisa di tubuhnya, tapi ia justru mulai membuka matanya!

________________________

“Dari mana saja kau? Kenapa kau tidak membawa makanan?” Tanya Jin ah saat melihat So hee yang baru datang.

“Hah, aku hampir saja membawakanmu makanan lezat, sayang sekali pangeran katak itu menggagalkanku lagi.” So hee merebahkan dirinya di sofa coklat yang nyaman.

“Mwo? Maksudmu Minho? Dan sekarang kau benar-benar tak membawa makanan sedikitpun? Aish… aku sangat lapar…” Jin ah mengeluh sambil memegang perutnya yang keroncongan.

“Makan saja anjing tetangga, cukup untuk sampai nanti siang kan?” kata So hee asal dan di balas dengan wajah kesal Jin ah.

“Anjing? Yang benar saja, itu menjijikkan. Memangnya kau tadi mau membawa makanan apa? Apakah benar-benar enak?”

“Sangat enak, aku hanya sempat meminum sedikit darahnya. Sangat manis.”

“Benarkah? Apakah tampak lebih enak dari pada pangeran katakmu itu?” Tanya Jin ah sedikit menggoda So hee, tapi So hee tak menanggapinya.

“Tentu saja. Jauh lebih enak. Aku yakin dagingnya pasti lebih empuk.” Jawab So hee sambil menerawang masih membayangkan Youngmin yang membuat perutnya semakin lapar.

“Bagaimana bisa? Aku kira Minho sudah yang paling enak. Sayang sekali dia terlalu kuat, kita tidak mungkin bisa memakannya.” Jin ah ikut menerawang membayangkan Minho yang tampak lezat baginya.

“Ne, tapi kita bisa memangsa makanan yang lebih lezat itu. Dengan sangat mudah tentunya.” So hee tersenyum licik, Jin ah sedikit terhenyak mendengarnya.

“Mwo? Nugu-ya?” Tanya Jin ah dengan sangan polos.

“Adik Minho.”

“Mworago?! Minho punya adik? Bagaimana mungkin? Itu pasti adik tirinya ya?” Jin ah benar-benar kaget mendengar hal yang tak pernah ia pikirkan itu.

“Tentu saja adik kandungnya. Kan tadi sudah ku bilang sangat enak.” So hee mulai kesal dengan sahabatnya yang satu ini.

“Tapi kenapa tidak ada yang mengetahuinya.”

“Sepertinya mereka sengaja merahasiakannya.”

“Waeyo? Apakah dia begitu penting bagi mereka?” Tanya jin ah lagi.

“Ne! ne, kau benar! Pasti ia sangat penting bagi mereka. Kau memang pintar! Hahaha…. Kita tidak akan memakannya!” kata So hee kegirangan dan melompat-lompat di sofa setelah menyadari sesuatu.

“Ya!! Kenapa tidak jadi? Tadi kau bilang sangat enak!” protes Jin ah tak terima.

“Aku punya rencana lain.” So hee kembali memamerkan senyum liciknya itu. Ia yakin ia punya rencana yang tak mungkin gagal.

________________________

Youngmin berjalan ke sana kemari di dalam kamarnya. Sebuah ruangan serba hitam dengan beberapa barang dari Kristal sebagai hiasan tergantung di atas ruangan. Sebuah tempat tidur bergaya Inggris tahun 1800an berada di tengah ruangan yang sangat megah itu. Tapi itu semua bukanlah yang vampire muda itu inginkan. Ia hanya ingin bebas seperti vampire lainnya. Berburu mencari mangsa untuk makan malamnya. Bukannya di kurung di Istana megah yang hanya membuatnya pengap.

“Akhirnya kau pulang juga. Eomma sangat khawatir terjadi sesuatu pada mu. Eomma dengar kau terluka, apakah parah? Katakan mana yang sakit?” kata Victoria panjang lebar sambil membelai lembut rambut putra kesayangannya.

“Gwenchana.” Jawab Youngmin singkat.

“Kau yakin? Kau terlihat pucat.” Victoria masih mengawatirkan keadaan putra bungsunya.

“Ne eomma, gwenchana. Aku hanya lapar.” Youngmin menyandarkan kepalanya di bahu Victoria dengan manja.

“Eomma akan siapkan makan malam untukmu, kau tunggu sebentar ya.” jawab Victoria dan beranjak pergi.

“Chakkaman eomma, ada yang ingin ku tanyakan.” Youngmin memegang tangan eommanya sehingga menghentikan niat Victoria untuk pergi.

“Mworago?”

“Kenapa aku harus diam di sini? Aku juga ingin seperti Minho hyung yang bisa bebas keluar.” Youngmin tampak sedih mengutarakan isi hatinya.

“Chagiya, itu semua eomma dan appa lakukan karena kau special bagi kami.” Victoria membelai lembut rambut putranya.

“Wae? Apa yang istimewa dari ku? Berburu saja aku tidak bisa.”

“Ada seseorang yang jahat di luar sana ingin memanfaatkan mu dan jika hal itu sampai terjadi maka bangsa vampire akan musnah.” Jelas Victoria dengan hati-hati.

“Memanfaatkan bagaimana?”

“Di dalam tubuhmu ada semacam kekuatan yang bahkan dapat menghancurkan seluruh bumi. Jika kekuatan itu sampai jatuh ke tangan yang salah. Nyawa semua makhluk di bumilah taruhannya.” Kata Victoria panjang lebar membuat Youngmin terdiam.

“Siapa orang itu?” Tanya Youngmin setelah terdiam beberapa saat.

“Kau tak perlu tahu. Apakah Hyung mu sudah pulang?” Victoria berusaha mengalihkan pembicaraan, tapi Youngmin hanya menggeleng lemah.

_____________________________

Alunan music berdentang semakin keras, cahaya lampu berkelap kerlip bergantian seiring dengan dentuman music yang membuat orang-orang semakin terbawa dalam suasana malam kota Seoul yang gemerlap. Sebuah club malam semakin ramai di kunjungi wajah-wajah muda penerus negri itu. Mereka datang bersama pasangan mereka, entah itu namja dan yeoja ataupun sesama jenis. Seorang yeoja dengan ciletto merah dan gaun malam minim yang juga berwarna merah mulai menarik perhatian. Dengan image sexy, ia menebarkan pesonanya ke segala arah. Seorang lelaki paruh baya mulai mendekatinya. Yeoja itu semakin menggoda setiap namja yang ada di dekatnya tanpa mempedulikan namja paruh baya tersebut. Merasa tak diperhatikan, namja itu menarik tangannya dengan paksa. Sang yeoja hanya bisa pasrah, mungkin memang namja itulah pelanggannya malam ini. Namja itu membawanya keluar menuju sebuah ruangan kecil yang tampaknya memang sudah dipersiapkan sejak awal. Sang yeoja hanya bergelantungan pada pundak namja itu, berharap dapat menikmati namja tampan itu malam ini. Tapi sang namja justru meninggalkannya sendiri dalam ruangan sempit yang cukup pengap. Yeoja itu tertegun beberapa saat, tak mengerti apa yang ia lakukan.

“Kau seekor vampire?” sebuah suara tiba-tiba memecah lamunan yeoja itu. Kali ini seorang namja tampan berambut hitam gelap tiba-tiba datang dari arah belakang.

“Kwangmin-ah, ternyata kau.” Sapa yeoja pada namja bernama kwangmin itu.

“Hyuna-ssi, cepat jawab! Aku yakin kau adalah seekor vampire!” bentak Kwang min dengan marah.

“Memangnya kenapa? Ku harap itu tidak akan merusak hubungan kita.” Jawab Hyuna yang mulai merayu Kwangmin, ia mendekatkan wajahnya pada Kwangmin sampai hanya beberapa centi saja.

Kwangmin terdiam sebentar, tapi kemudian ia tersenyum penuh arti. Ia membelai pipi Hyuna dengan lebut membuat Hyuna menenggelamkan diri dalam pelukannya. Hyuna mendekatkan wajahnya ke leher Kwangmin dan menjilatinya dengan nakal. Kwangmin semakin tersenyum lebar. Gigi-gigi panjang Hyuna mulai muncul, menandakan betapa laparnya ia.

‘Jleep…’ Hyuna membelalakkan matanya, menyadari sesuatu terjadi.

“Mianhe, tapi aku benci vampire.” Kata Kwangmin pelan setelah menusukkan sebuah pisau tajam ke dada Hyuna.

Tak ada sedikitpun darah yang keluar dari tubuhnya, namun sedikit demi sedikit tubuh yeoja cantik itu mulai melebur menjadi butiran butiran pasir sampai akhirnya benar-benar menghilang.

Kwangmin menatapnya sinis, matanya mulai menyala merah seperti api.

“Aku akan menghancurkan semua bangsamu.”Kata Kwangmin yang perlahan-lahan menghilang.

****

TBC

Advertisements