Title: MISTERY IN THE PAST TIME

Author: Mikyou

Main cast:

  • Jo Youngmin (Boyfriend)
  • Jin Hyewon (Co-ed School)
  • Song Ga In (BEG)
  • Ham Eunjung (T-ara)
  • Lee Gikwang (B2st)
  • Shik Gongchan (B1A4)
  • Yoo Seung Ho (actor)
  • Im Jin Ah (After school)
  • Kang Sora

Other cast: silahkan temukan sendiri ^_^

Genre: Horor, mistery

Rating: 16+

Recommended song: Bbiri bba bba (Narsha BEG)

‘Cerita ini sedikit diambil dari kejadian di sekolahku, dimana ada dua buah tugas yang di kerjain tapi orangnya nggak ada. Jadi sedikit ragu-ragu buat bikin ff ini. (#plaak… author curhat). Ini ff horor kelima ku. Tapi tetep aja amburadul, dan judulnya sungguh aneh, hehe Mianhe >_<

Check this out………..

Hangook High School, kelas II-2:

Sora songsaenim meletakkan tumpukan kertas di atas meja guru. Siswa-siswa hanya memandanginya tanpa berkata apa-apa. Ia mulai mengambil selembar kertas itu.

“ Hari ini saya akan membagikan hasil lukisan kalian kemarin, saya sudah mendapatkan hasilnya. Ternyata kalian cukup berbakat melukis ya.” Kata Sora songsaenim sambil tersenyum ramah. Ia memang guru yang paling disukai semua murid karena keramahannya. Selain cantik, ia juga masih muda sehingga tak sedikit siswa namja yang menaruh hati pada guru itu.

“ Jin Hyewon” Ia mulai memanggil satu persatu siswanya.

“Ham eunjung”

“Jo Youngmin”

“Shik Gongchan”

“Yoo seung hoo”

”Lee gikwang”

“Im Jin Ah”

Sora songsaenim berhenti sejenak sebelum memberikan lembar terakhir. Ia mengamati lukisan itu. Lukisan yang sangat bagus dan sebenarnya mengerikan.

“Song Ga in!” akhirnya ia memanggil nama siswa itu, tapi siswa-siswa lain terlalu ribut. Mereka sibuk melihat hasil karya teman mereka yang lain. Tak ada yang menyahut panggilan Sora songsaenim.
“Ga in! Apa dia berangkat hari ini?” Ia memanggil lebih keras lagi. Kelas kembali tenang. Tapi siswa-siswa lain hanya saling pandang.

“Songsaenim, tak ada yang bernama Ga In di kelas ini. Mungkin itu dari kelas lain.” Sahut Seung ho sang ketua kelas.

“Tapi, di sini tertulis kelas I-2. Apa mungkin salah tulis?” Sora songsaenim merasa ragu, entah kenapa tapi ia mulai merasakan sesuatu yang aneh mulai terjadi.

“Ah, sudahlah lupakan saja. Mari kita mulai pelajarannya.” Katanya menenangkan siswa-siswanya yang juga mulai penasaran.

Kelas II-1:

Sora Songsaenim melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan di kelas II-2, membagikan hasil lukisan para siswa.

“Song Gain. Apa ada yang bernama Song Gain di sini?” Ia bertanya dengan ragu. Ini kelas terakhir yang sudah ia coba masuki, tapi tak ada juga siswa yang bernama Gain. Ia berharap bisa menemukan yeoja itu.

“Siapa Ga In? Tidak yang bernama Ga In, songsaenim!” kata salah satu siswa yang membuatnya semakin bingung.

Ia coba untuk memeriksa lagi namanya. Benar namanya Song Ga In, tapi siapa siswa ini? Ia melihat ujung kertas itu. Terdapat sebuah tulisan kecil yang ternyata sebuah tanggal. 12-08-1971. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihatnya. Bagaimana mungkin tugas itu dibuat 40 tahun yang lalu? Tapi kertasnya saja masih terlihat baru dan bahkan bau cat air pada lukisannya masih tercium. Ini pasti dibuat beberapa hari yang lalu. Atau ini hanya ulah salah satu siswanya yang jahil? Ah, bisa saja.

Ia memperhatikan lagi lukisan itu dengan seksama, tak menghiraukan siswanya yang menatapnya penuh tanda tanya. Lukisan itu bergambarkan sebuah ruang kelas, tapi banyak darah dan mayat-mayat dimana-mana. Salah satu mayat itu adalah seorang ahjuma dengan seragam guru sedangkan yang lainnya adalah siswa-siswanya. Tapi ada seorang yeoja yang masih duduk ditempat duduknya sambil menundukkan kepalanya. Mungkin maksud sang pelukis hanya yeoja itu yang selamat sedangkan teman-temannya mati. Lukisan itu terlihat sangat nyata, seperti sebuah foto. Sora songsaenim sedikit merinding melihatnya.

*** L ***

“Apa kalian tahu? Aku dengar dari anak kelas lain kalau yang bernama Ga In itu memang tidak ada. Jadi, sebenarnya siapa yang mengerjakan tugas itu? Atau jangan-jangan….” Gikwang tak melanjutkan kata-katanya, membuat teman-temannya penasaran.

“Maksudmu hantu? Sejak kapan hantu bisa melukis? Hahaha…” celetuk Jin Ah yang membuat teman-teman sekelasnya menoleh kearahnya.

“Bisa saja, mungkin ia arwah Leonardo Davinchi.” Sahut Youngmin dengan tatapan polosnya.

“Namanya tadi Ga In, bukan Davinchi!” Hyewon menjitak kepala Youngmin dan membuatnya meringis kesakitan.

“Yaa! Itu bukan urusan kalian. Mungkin hanya siswa lain yang iseng. Lupakan saja. Itu tidak penting!” bentak Seung ho yang merasa terganggu dengan teman-temannya yang mulai ribut.

“Seung ho-ya, ayo temani aku ke ruang guru. Aku ingin mengembalikan buku Leetuk songsaenim yang tadi kupinjam.” Rengek Gongchan manja.

“Ne, kajja!” Seung ho bengkit dari kursinya dan berjalan mendahului Gongchan yang tertinggal di belakangnya.

Gongchan meletakkan sebuah buku di meja Leetuk songsaenim. Tapi pandangannya tak lepas dari meja Sora songsaenim yang berada tepat di samping meja Leetuk songsaenim. Ia melihat ke sebuah lukisan yang ada di meja itu.

“Seung ho-ya, coba lihat ini!” kata Gongchan sambil mengambil lukisan itu. Seung ho segera mendekatinya.

“Apa itu lukisan Ga In?” Seung ho mulai ikut penasaran setelah melihat lukisan itu, tapi Gongchan justru terpaku.

“Channi-ya, gwenchana?” Gongchan masih terdiam, matanya masih tak lepas dari lukisan itu.

“Kajja, ikut aku!” Gongchan tiba-tiba berlari meninggalkan ruang guru, Seung ho segera mengejarnya.

Mereka berlari kembali ke kelas. Dengan cepat Gongchan membuka laptopnya. Seung ho dan teman-teman sekelas lainnya hanya memperhatikannya.

“Apa yang akan kau lakukan?” Eunjung tampak penasaran dengan ulah Gongchan.

“Coba lihat ini.” Tunjuk Gongchan sambil memperlihatkan sebuah artikel di internet.

‘Sebuah peristiwa tragis menimpa Hangook High School, tepatnya pada tanggal 12 Agustus 1971. Terjadi pembunuhan yang menewaskan 20 siswa dan seorang guru yang sedang mengikuti pelajaran tambahan pada jam malam. Tak ada korban selamat dalam kejadian itu. Seorang penjaga sekolah baru mengetahui peristiwa tragis ini pada pagi harinya. Seluruh korban meninggal dengan tubuh yang termutilasi. Bahkan sampai saat ini pelakunya masih belum diketahui.’

“Mengerikan. Aku baru tahu kalau pernah terjadi kejadian itu di sini.” Youngmin menatap nanar artikel di depannya.

“Tapi apa hubungannya kejadian itu dengan lukisan tadi?” Tanya Seung ho yang juga mulai tertarik.

“Apa kau tadi tidak memperhatikannya? Di lukisan itu ada beberapa mayat yang tubuhnya terpotong di dalam kelas. Jadi…” Gongchan tak melanjutkan kata-katanya, berharap teman-temannya sudah menebaknya. Tapi mereka hanya terbengong-bengong tak mengerti.

“Huh, jadi bisa saja lukisan itu menggambarkan peristiwa pembunuhan yang pernah terjadi di sekolah ini.”
“Lalu?” Eunjung masih tak mengerti dengan jalan pikiran temannya yang satu ini.

“Aigoo… kalian ini. Harus berapa kali ku jelaskan. Mungkin lukisan ini merupakan misteri yang akan mengantarkan kita kepada kebenaran peristiwa ini.” Kata Gongchan seperti orang bijak.

‘Plaak’ tiba-tiba sebuah buku melayang ke atas kepalanya.

“Bicaramu berlebihan.”

“Kau terlalu paranoid.”

“Kau ingin jadi detektif ya?” cibir teman-teman sekelasnya. Gongchan hanya mendengus kesal mendengarnya.

“Jangan terlalu cepat menyimpulkan seperti itu. Siapa tahu hanya kebetulan saja.” Seung ho berusaha berpikir positif.

“Aku kan hanya menebak.” Bela Gongchan tak terima.

“Sudah tak perlu kau urusi lagi. Ini bukan masalah kita.” Kata Seun ho bijaksana.

*****

Hyewon Pov:

‘Tic toc tic toc’ terdengar suara detik jam yang tak pernah berhenti berputar. Pukul 7 malam. Aish… kenapa tugas belum selesai-selesai. Ku lihat ke sekelilingku, tak ada satu orang di perpustakaan selain penjaga perpustakaan yang tampak sedang berberes-beres akan pulang. Andai saja bukan karena tugas dari Leetuk Songsaenim ini pasti aku sudah bermanja-manja dengan bantal dan selimutku yang nyaman bukannya sibuk sendiri di tempat sesepi ini. Huh…

“Hyewon-ah.” Ku balikkan badanku. Samar-samar tadi ku dengar ada yang memanggilku. Tapi tak ada orang, apa hanya halusinasi ku? Aah, mungkin aku terlalu lelah.

“Apa kau sudah selesai. Aku akan segera menutup perpustakaan ini. Sebaiknya kau pulang saja.” Kata penjaga perpustakaan yang tiba-tiba datang menghampiriku.

“Ne, aku sudah selesai.” Ku bereskan buku-buku yang berserakan di meja.

Tanpa sengaja pandanganku melayang pada secarik kertas yang terselip dalam salah satu buku. Sebuah lukisan. Tapi… lukisan yang sangat aneh. Apa maksudnya ini? Tanganku gemetar memegangnya. Kaki ku terasa lemas. Siapa yang berani-beraninya membuat lelucon seperti ini? Mata ku masih tak mampu beralih dari lukisan itu. Lukisan kepala seseorang yang sangat tak asing bagiku. Kepala yang terpotong. Dari mulutnya keluar darah. Matanya kanannya hilang. Dahinya juga berdarah dan terdapat luka sobek. Namun aku masih bisa mengenali siapa orang dalam lukisan itu. Ku coba untuk memejamkan mataku. Ini pasti hanya lelucon! Ya! Pasti hanya ulah seseorang yang iseng. Bagaimana mungkin aku tidak ketakutan jika wajah orang dalam lukisan itu adalah aku sendiri!!!!!

Hyewon Pov end.

Author Pov:

Seung ho terdiam di atas sebuah jembatan laying, menatap jalan di bawahnya lenggang. Tapi pikirannya masih tertuju pada satu orang. Boram, seorang yeoja bertubuh mungil dan yeppo. Tapi mungkin tidak bagi Seung ho yang justru menganggapnya sebagai yeoja aneh. Bagaimana tidak, dia beberapa kali memergoki Boram yang sedang berbicara sendiri seperti orang gila. Apa lagi setelah Boram mernyatakan perasaan padanya.

“Aish… aku benar-benar gila. Mau aku apakan yeoja itu.” Gumam Seung ho pada dirinya sendiri.

Ia mulai melangkah menuruni jembatan. Tiba-tiba ia melihat seorang yeoja, sedang berdiri di tengah jalan. Eunjung! Seung ho segera berlari menghampirinya. Tapi tubuh Eunjung sedikit demi sedikit menghilang menjadi seberkas bayangan.Seung ho terdiam di tengah jalan, tak percaya apa yang baru saja ia lihat.

‘Braaak…’ tiba-tiba sebuah truk menghantam tubuhnya. Dan semuanya menjadi gelap. Gelap yang mencekam. Gelap yang mungkin akan ia rasakan selamanya.

##TBC##

Mianhe!!! Ancur banget ya? Hehe… Abis author belum bertapa jadi belum dapat ide yang bagus buat lanjutin ceritanya. Terpaksa bersambung dengan cara kayak gini deh…. Kalo menurut author, ceritanya sama sekali nggak serem. Aigoo… Mianhe lagi! Yang udah baca harus coment atau ku kutuk jadi ayam!

Advertisements